Hello Cantik

Tips Cantik untuk Perempuan Indonesia

Herbal, Reseller, dan Digitalisasi: Strategi Irna Nurhasanah Memberdayakan 5.000 UMKM di Jawa Barat

Herbal, Reseller, dan Digitalisasi: Strategi Irna Nurhasanah Memberdayakan 5.000 UMKM di Jawa Barat

Di sebuah sudut rumah sederhana di Jawa Barat, aroma kemiri yang dipanggang perlahan bercampur dengan wangi minyak kelapa tradisional. Di sanalah, Irna Nurhasanah memulai perjalanan panjangnya.

Perempuan ini bukan hanya sekadar pengusaha yang menjual produk berbasis herbal. Ia adalah sosok yang memadukan kearifan lokal dengan semangat modern, membangun usaha bernama Kizi Homemade—sebuah brand yang lahir dari dapur rumah tangganya namun kini menjelma menjadi penggerak ekonomi dan ruang pemberdayaan bagi ribuan orang.

Bagi Irna, produk herbal bukan sekadar bisnis, tetapi juga medium untuk merawat tradisi, mengangkat potensi lokal, dan menyalakan kembali semangat kewirausahaan di kalangan masyarakat. Perjalanannya penuh cerita jatuh bangun, tetapi justru di situlah letak kekuatan yang membuat kisah ini layak dikupas lebih dalam.

Dari Dapur ke Pasar: Lahirnya Kizi Homemade

Produk Kizi Homemade Irna Nurhasanah Jawa Barat
Sumber: Google

Irna mengawali Kizi Homemade dari kebutuhan sederhana. Ia melihat banyak orang di sekitarnya masih bergantung pada produk perawatan rambut impor yang tidak selalu cocok dengan iklim tropis Indonesia. Padahal, alam Nusantara kaya akan bahan herbal yang terbukti berkhasiat, seperti kemiri, lidah buaya, dan daun bidara.

Dengan latar belakang sebagai ibu rumah tangga yang terbiasa mengolah bahan-bahan tradisional, Irna bereksperimen membuat minyak kemiri untuk mengatasi kerontokan rambut. Awalnya hanya dipakai sendiri, lalu diberikan pada teman dekat dan tetangga. Ternyata, hasilnya memuaskan dan permintaan mulai berdatangan. Dari sanalah, ia sadar bahwa ada peluang besar yang bisa digarap.

Seiring waktu, lini produk Kizi Homemade berkembang. Tidak hanya minyak kemiri, Irna juga meracik shampo aloe vera dengan campuran daun bidara yang efektif untuk mengatasi ketombe dan kutu rambut. Ia juga membuat minyak kelapa (klentik) olahan tradisional, yang tak hanya bermanfaat untuk rambut, tapi juga membantu menyembuhkan luka, meredakan iritasi kulit, hingga menjaga kelembapan alami.

Baca Juga  Trik Cerdas Mencari Distributor Kosmetik Korea Tangan Pertama

Namun, Kizi Homemade tidak berhenti pada ranah personal care. Irna juga melirik kuliner tradisional sebagai bagian dari usahanya, karena baginya, makanan adalah identitas budaya yang harus dijaga keberlanjutannya.

Menjadi Lebih dari Sekadar Produk

Apa yang membuat Kizi Homemade berbeda bukan hanya produknya yang alami dan ramah lingkungan, tetapi juga nilai yang terkandung di balik setiap kemasan. Irna tidak ingin usahanya sekadar menghasilkan keuntungan. Ia ingin brand ini menjadi sarana pemberdayaan masyarakat, terutama bagi perempuan yang ingin mandiri secara ekonomi.

Dari sini lahirlah sistem reseller. Irna membuka kesempatan bagi siapa saja—ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga karyawan—untuk ikut berjualan produk Kizi Homemade tanpa harus memikirkan proses produksi. Ia melatih mereka cara promosi, membekali dengan materi pemasaran, dan bahkan memberikan pendampingan intensif.

“Kalau usaha ini hanya saya nikmati sendiri, rasanya hambar. Saya ingin orang lain juga merasakan manfaatnya, baik dari sisi kesehatan rambut maupun dari peluang ekonominya,” tutur Irna dalam sebuah sesi wawancara.

Kini, sistem reseller Kizi Homemade sudah menjangkau banyak daerah di Jawa Barat dan sekitarnya. Dari dapur kecil, brand ini telah menjadi jaringan usaha yang melibatkan ribuan orang.

Digitalisasi: Membawa Tradisi ke Era Modern

Profil Instagram Irna Nurhasanah BISA DIGITAL MARKETING

Satu hal yang membuat Irna berbeda adalah caranya memanfaatkan digitalisasi. Ia paham betul bahwa di era sekarang, sebuah usaha tidak bisa berkembang hanya mengandalkan penjualan offline. Internet adalah pasar yang tak berbatas, dan media sosial adalah panggung utama untuk menunjukkan produk lokal ke dunia.

Melalui program “Sharing is Caring: BISA DIGITAL MARKETING”, Irna mulai berbagi pengetahuan tentang bagaimana cara memasarkan produk secara online. Ia tidak segan turun tangan, mengajarkan dari hal sederhana seperti cara membuat konten foto produk yang menarik, menulis caption yang tepat sasaran, hingga strategi menjaga engagement di media sosial.

“Banyak yang takut duluan dengan istilah digital marketing. Padahal sebenarnya, kalau dibimbing dengan cara yang sederhana, semua bisa memulai,” jelasnya.

Baca Juga  Cara Bisnis Baju Distro Kecil-Kecilan Supaya Menguntungkan

Berbekal sertifikat BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sebagai trainer digital marketing, Irna kini dikenal sebagai pembicara yang sering diundang dalam berbagai pelatihan UMKM. Ia memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai mentor dan fasilitator yang membantu membuka jalan bagi ribuan orang untuk mengenal dunia digital.

Memberdayakan 5.000 UMKM: Sebuah Jejak Nyata

Dampak nyata dari kerja keras Irna bisa dilihat dari jumlah UMKM dan pemuda yang telah ia dampingi. Hingga kini, lebih dari 5.000 pelaku usaha kecil sudah merasakan manfaat dari pelatihan dan pendampingan yang ia berikan.

Ada cerita seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini bisa membantu biaya sekolah anaknya dari hasil menjadi reseller Kizi Homemade. Ada pula mahasiswa yang memanfaatkan peluang ini untuk membiayai kuliahnya. Semua itu menunjukkan bahwa usaha Irna bukan hanya soal produk, tetapi tentang perubahan hidup nyata bagi orang lain.

Model bisnis ini membuktikan bahwa ketika kewirausahaan dipadukan dengan pemberdayaan, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar keuntungan. Irna mempraktikkan apa yang disebut social entrepreneurship—usaha yang lahir dari hati, dikelola dengan inovasi, dan berdampak pada masyarakat luas.

Tantangan dan Jatuh Bangun

Tentu perjalanan Irna tidak mulus begitu saja. Di awal, ia menghadapi kendala klasik: keterbatasan modal, peralatan sederhana, dan minimnya pengalaman bisnis. Tak jarang, ia harus berhadapan dengan pandangan meremehkan dari orang sekitar yang menganggap produk herbal buatannya tidak akan laku di pasaran.

Namun, dengan konsistensi, ia terus belajar. Irna rajin mengikuti berbagai pelatihan, membaca literatur tentang kewirausahaan, hingga memanfaatkan platform digital sebagai sumber belajar. Perlahan tapi pasti, kualitas produknya meningkat, strategi pemasarannya membaik, dan jaringan usahanya kian meluas.

Baginya, setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh. Filosofi inilah yang ia tularkan pada para reseller dan UMKM binaannya.

Melestarikan Tradisi, Membangun Masa Depan

Salah satu hal yang selalu Irna tekankan adalah pentingnya melestarikan kearifan lokal. Dengan menggunakan bahan-bahan herbal asli Indonesia, ia ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak kalah dengan modernitas. Justru, ketika dikemas dengan baik dan dipasarkan dengan strategi digital, produk lokal bisa bersaing di tingkat nasional bahkan global.

Baca Juga  6 Tips Memilih Distributor Kosmetik Murah Tangan Pertama

“Herbal itu identitas kita. Kalau bukan kita yang melestarikan dan mempopulerkannya, siapa lagi?” katanya.

Melalui Kizi Homemade, Irna tidak hanya menghidupkan kembali resep-resep lama, tetapi juga memberi napas baru bagi tradisi dengan memadukannya ke dalam gaya hidup modern.

Harapan ke Depan

Ke depan, Irna bercita-cita untuk memperluas jaringan Kizi Homemade hingga ke seluruh Indonesia. Ia juga berencana mengembangkan lebih banyak program pelatihan digital marketing agar semakin banyak UMKM yang bisa naik kelas.

Ia percaya bahwa masa depan kewirausahaan Indonesia ada di tangan generasi muda yang mau belajar, berani mencoba, dan tidak takut gagal. Dengan pengalaman dan pengaruh yang ia miliki sekarang, Irna ingin terus menjadi bagian dari perjalanan itu.

Penutup

Kisah Irna Nurhasanah adalah contoh nyata bagaimana seorang perempuan bisa menjadi motor perubahan. Dari dapur rumah sederhana, ia membangun brand berbasis herbal yang kini menjangkau ribuan orang. Lewat sistem reseller, ia membuka pintu rezeki bagi banyak keluarga. Dan dengan digitalisasi, ia membawa tradisi ke masa depan.

Lebih dari sekadar pengusaha, Irna adalah penggerak, pendidik, sekaligus inspirator. Ia membuktikan bahwa kewirausahaan bisa menjadi sarana untuk memberdayakan, bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri.

Tak heran, pada tahun 2022, ia mendapat pengakuan atas kontribusinya dengan menjadi salah satu penerima penghargaan SATU Indonesia Awards dari Astra di bidang kewirausahaan untuk tingkat Provinsi Jawa Barat. Sebuah apresiasi yang layak bagi sosok yang telah mendedikasikan dirinya untuk herbal, reseller, dan digitalisasi—tiga kata kunci yang kini identik dengan nama Irna Nurhasanah.

Referensi:

  1. Widyaherma. (2024). Irna Nurhasanah: Sosok Penggerak bagi Pengusaha Muda Indonesia.
    https://widyaherma.com/2024/10/irna-nurhasanah-sosok-penggerak-bagi-pengusaha-muda-indonesia.html
  2. SATU Indonesia Awards – Astra. (2022). Penerima Apresiasi Tingkat Provinsi Jawa Barat: Kategori Kewirausahaan.
    https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/penerima-apresiasi-tingkat-provinsi-2022/
  3. Scribd. (2023). List Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2010–2023.
    https://www.scribd.com/document/795457471/List-Penerima-Apresiasi-SATU-Indonesia-Awards-2010-2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dari Limbah hingga Pestisida: Bagaimana Pencemaran Tanah Mengancam Hidup Kita
Previous Post Dari Limbah hingga Pestisida: Bagaimana Pencemaran Tanah Mengancam Hidup Kita
Quarter, Half, dan O’clock: Cara Mudah Memahami Penulisan Jam Bahasa Inggris Bersama EF EFEKTA English for Adults
Next Post Quarter, Half, dan O’clock: Cara Mudah Memahami Penulisan Jam Bahasa Inggris Bersama EF EFEKTA English for Adults